Senin, 02 April 2012


Meningkatkan Kemampuan Komunikasi

Tidak semua orang mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik. Namun sebagai profesional, mau tidak mau Anda harus mempunyai kemampuan ini. Bagaimana cara meningkatkannya?
Sebagai seorang profesional, kemampuan berkomunikasi sangat diperlukan dalam menjalankan profesinya. Penelitian yang diadakan sebuah lembaga komunikasi di Amerika Serikat menunjukkan 50-80 persen manajer dan supervisor menghabiskan waktunya dengan berkomunikasi satu sama lain. Hal ini tidak mengejutkan karena komunikasi merupakan alat penghubung dan penggerak kegiatan manusia.
Tanpa komunikasi yang efektif, tidak akan ada manajemen yang baik, karena tidak ada inovasi, saling pengertian, dan koordinasi. Selain itu, tanpa komunikasi juga akan menghambat terciptanya sebuah keputusan. Banyak sekali pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan menjadi gagal akibat kurangnya kemampuan seseorang dalam berkomunikasi secara efektif.
Komunikasi yang buruk dan tidak efektif juga pertanda kurang mampunya seseorang mengungkapkan pemikiran. Sehingga, ia tidak mendapatkan tanggapan yang sesuai dengan apa yang diinginkannya. Di lain pihak, para staf yang tidak mampu berkomunikasi secara balk akan sulit dimengerti oleh para costumer atau klien mereka. Sayangnya, sangat jarang orang yang menyadari kalau ia tidak mampu berkomunikasi dengan balk. Nab, bagaimana menyikapinya?
Untuk meningkatkan komunikasi yang efektif dibutuhkan tiga hal. Pertama, semua pihak harus punya keinginan untuk berkomunikasi dengan baik. Semua pihak harus mau belajar berkomunikasi dan mengerti bahwa komunikasi bukanlah hal yang mudah.
Selanjutnya, lingkungan juga sangat menunjang terjadinya komunikasi yang efektif. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara efektif membutuhkan perhatian yang besar, meski biasanya para atasan yang cara komunikasinya sejelek apa pun akan tetap “dihormati” oleh para bawahannya. Oleh karena itu, unsur saling menghormati dan menghargai perlu ditanamkan sebelum komunikasi yang efektif bisa berhasil.
Terakhir, mulailah untuk lebih bersikap kritis dan saling mengingatkan satu sama lain dalam upaya terus meningkatkan komunikasi yang terbuka dan efektif. Tanpa usaha ini, hampir semua kemampuan dan keahlian yang kita punya akan percuma. Setinggi ataupun serendah apa pun jabatan yang disandang, tanpa kemampuan berkomunikasi yang balk, pesan yang ingin disampaikan tidak akan sampai dengan baik.

Harapan Anak, Harapan Ibu

Tak ada yang tahu, kapan hidup ini akan berakhir. Ada janin yang sudah berakhir sebelum sempat dilahirkan. Juga, ada orang yang sudah berusia 80 tahun lebih,  tapi masih mampu beraktivitas. Sungguh, tak ada yang mampu mengakulasikan usia seseorang. Yang jelas, seorang anak berharap bisa tetap bersama ibunya selama¬lamanya. Demikian juga sebaliknya, sang ibu berharap bisa tetap bersama anaknya selama-lamanya.
Meski demikian, secara medis, peneliti Kontrad Lorenz Institute for Ethology, Wiria, Austria, mencoba menghubungkan antara sering atau tidak seringnya seorang wanita melahirkan dengan harapan hidupnya. Para peneliti meriset kehidupan kaum Mormon, di Amerika Serikat. Penelitian itu dilakukan terhadap 21.000 pasangan di Utah yang menikah pada 1860-1895. Responden rata-rata memiliki – sembilan anak dan enam belas cucu.
Para peneliti itu menyimpulkan, wanita yang terlalu sering melahirkan akan cenderung menurun daya tahan hidupnya. Selain karena faktor organ reproduksi, juga di picu oleh faktor psikis karena sering kesal dan marah menghadapi perilaku anak sehari¬hari. Untunglah, banyak wanita Indonesia yang justru sudah merencanakan memiliki anak hanya dua atau tiga orang saja. Dengan demikian, .mereka, tidak sering. melahirkan dan harapan hidupnya juga makin lama.