Kamis, 31 Mei 2012



Wujudkan Impianmu Hingga Titik Kesuksesan. Saya yakin, setiap manusia yang masih merasakan segarnya nafas kehidupan di dalam dunia ini, pasti sudah selayaknya ia  memiliki impian dan harapan untuk pencapaian di kehidupannya. Baik itu tercapai dan tidak impian tersebut, namun harapan akan impian, pasti selalu ada. Begitu juga dengan saya. Sebenarnya, tak susah jika saya ingin mengemukakan impian saya pada dunia. Karena hakikatnya, impian saya itu sangat mudah. Hanya ingin menjadi ibu rumah tangga yang mampu mendidik keluarga dengan ajaran yang baik dan benar menurut agama. Nah, mudah khan?! Namun semudah itukah impian saya tercapai? Hm….! Sebuah pertanyaan yang singkat, namun menuntut jawaban yang panjang dan lebar. Mengapa demikian? Karena saya merasa, jalan untuk meraih impian, memang tak semudah belajar naik sepeda. Itulah hakikatnya, yang hingga kini, impian saya belum sepenuhnya tergapai. Tentu  Anda bertanya, apa penyebab impian saya belum tercapai.
Pertama, mengapa saya tidak tinggal bersama keluarga. Tentunya  karena banyak factor. Faktor utama adalah, sebuah rumah. Ya, sampai saat ini, saya belum memiliki rumah pribadi, walau hanya gubug reot sekalipun.  Jujur, lho saya. (Impiannya sich, pengen punya rumah yang mewah kelak J), agar bisa di tempati untuk semua keluarga. Dari ibu, adik, anak, dan cucu.  Kumpul, menjadi keluarga besar, khan asyik. Moga tercapai. Amin.  Untuk yang kedua ini,  saya ingin punya modal untuk usaha, dan modal usaha yang tersebut, tidak berpatok pada materi semata, namun juga modal usaha berupa skill, atau jati diri.
Walaupun saya bukan ahli ekonomi, namun kita setidaknya sadar, ekonomi negara kita, memang  tak sebagus negara-negara lain. Jadi, jika saya tetap berada di kampung terus, kemungkinan bukan modal yang saya dapat, namun hanya kebodohan dan  utang yang menumpuk, bagai gunung merapi L. Itulah yang saya takutkan.
Dan sebagai manusia yang dikaruniakan akal serta badan yang  sehat, tentunya, saya tak mau hanya duduk sambil berpangku tangan, apalagi berdiam diri. Itu bukan saya. Seperti manusia pada umumnya, sayapun memiliki impian dan cita-cita yang harus diperjuangkan sampai titik kesuksesan. Dan itulah yang sedang saya kejar dalam target cita-cita dan impian saya saat ini. Berjuang untuk memiliki tempat berlindung, demi keluarga tercinta, dan berjuang untuk mencari modal usaha serta keterampilan kerja demi sekembalinya saya dari tanah rantauan, pastinya.
Mengapa saya prioritaskan rumah, karena kita tahu, tempat tinggal itu sangat penting dalam kehidupan. Yang kedua modal atau keterampilan kerja, karena kita tahu, tanpa keterampilan kerja, kita hanya akan menjadi orang yang sukses menganggur. Dan itu sangat saya takutkan. Maka dari itu, sayapun berusaha keras untuk mewujudkan impian-impian saya satu persatu. Gak salah khan? Allah telahpun mengaruniakan kita segalanya  termasuk kesuksesan kita. Hanya saja, jika kita tidak berusaha untuk menggalinya, maka kesuksesan itu tetap akan tertimbun, dan takkan pernah terkuak ke luar untuk kita. Ideologinya, gali kesuksesan kita , dengan semangat kerja keras, dan untaian doa untuk mendapatkan restu dari Sang Pemilik Kesuksesan dunia akhirat.
Dan Alhamdulillah, satu persatu, impian saya mulai tercapai. Dari ekonomi keluarga yang mulai membaik, lalu mampu membeli tanah sendiri, sampai hal yang tiada terduga, yaitu bisa sukses menjadi seorang penulis. Terus terang, menjadi seorang penulis itu, tidak termasuk dalam  agenda  impian saya. (Itu dulu lho…) Lain dulu lain pula sekarang. Sekarang maunya justru lebih naik lagi J
Bermula menjadi seorang TKW di Negara Sekuler, Hong Kong, saya mengenal dunia tulis menulis. Waktu itu, di kontrak kedua, saya bekerja dengan seorang nenek tua. Kami hanya berdua dalam rumah yang lumayan besar. Saya yang memiliki hobby membaca buku, akan selalu membeli dan meminjam buku-buku di perpustakaan para BMI. Lama kelamaan, hobby saya ini menjadi candu dalam otak saya. Bahkan seolah mengharuskan, membaca buku dalam setiap harinya. Akhirnya, setelah saya memiliki banyak koleksi buku, sayapun membuka perpustakaan sendiri. Perpustakaan itu saya beri nama Perpustakaan Insani. Alhamdulillah, sukses, dalam artian, banyak yang ketularan virus membaca saya.
Lalu, bukan hanya penyewaan buku saja yang saya geluti untuk mengisi kekosongan waktu saya, namun juga penjualan buku-buku dan alat-alat muslimah. Seperti baju muslimah, kerudung, sabun pencuci najis, dan lain sebagainya, yang bersangkutan dengan dunia muslim. Alhamdulillah, sambutan dari teman-teman semakin hangat. Mereka selalu ketagihan buku dan kerudung dari perpus saya ini. Setelah lama bergelut dalam dunia buku, saya merasa penasaran dengan seorang yang bergelar penulis, maklum, selalu jadi penikmat karya-karya mereka. Sayapun berusaha untuk mewujudkan impian baru ini, yaitu ingin menjadi penulis seperti para penulis-penulis di tanah air. Maka dari itu, saya mengisi hari senggang untuk belajar menulis. Beruntung karena pihak majikan mengizinkan saya memiliki computer, dengan alasan sedang sekolahJ.
Akhirnya, rasa penasaran saya terjawab dengan kehadiran penulis senior dari tanah air, yang melawat organisasinya ke Hong Kong. Karena saya merasa ngefans/suka dengan penulis tersebut, lalu dengan suka cita saya bergabung pula dalam organisasinya, yaitu FLPHK (Forum lingkar pena Hong Kong). Setelah bergabung, saya mulai mengerti dunia tulis menulis. Terus terang, awal saya bergabung di forum ini saya merasa minder karena saya tak memiliki pendidikkan tinggi. Namun, saat penulis senior itu memberikan nasehat, bahwa untuk menjadi seorang penulis tak harus pendidikkan  tinggi, tiba-tiba, niat saya kembali membara. Saya benar-benar   termotivasi pada ucapan nasehatnya.
Dengan semangat itulah, saya berusaha untuk mempelajari segala hal dalam dunia kepenulisan. Baik belajar secara otodidak, maupun belajar bersama dalam organisasi di forum. Mungkin karena rasa penasaran saya yang selalu membuncah, hingga saya tak  segan atau malu untuk mengikuti berbagai perlombanaa menulis. Alhamdulillah, tak di sangka-sangka, salah satu perlombaan menulis yang saya ikuti, mengumumkan namaku menjadi salah satu pemenang diantara yang lain. Maha Suci Allah dengan segala firmannya. “Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (22:76) Allah mengetahui setiap usaha keras saya. Saya benar-benar bahagia. Akhirnya, kesuksesan  kecil, mulai saya raih dalam dunia kepenulisan. Lalu berlanjut dengan kobaran semangat. Hingga asappun mengepul dengan di selingi bau yang menyengat. Berita mengenai saya, seorang TKW yang bisa menulis, akhirnya tercium oleh salah satu penerbit yang luar biasa, yaitu Penerbit Leutika. Beliau yang menjadi seorang atasan dalam penerbit ini, meminta saya untuk menceritakan dunia saya dalam dunia TKW dan kepenulisan untuk diceritakan dalam bentuk buku. Subbhanallah, saya terharu mendengar berita besar ini. Berita yang akhirnya membuat saya sukses dalam dunia kepenulisan selanjutnya.
Allah Maha Adil, dengan mengirim Penerbit Leutika untuk menapaki tangga kesuksesan saya dalam dunia kepenulisan. Karena melalui penerbit inilah, karir saya bermula. Semoga semua yang terlibat dalam pembuatan buku-buku saya, akan mendapatkan rizki yang serba cukup dari Allah. Amin. Dan setelah sedikit berhasil menulis buku, kini saya ingin menjadi seorang penulis scenario film. Ya, terus terang saya termotivasi dari seorang sutradara yang sekaligus penulis skenarionya. Beliau berdua adalah Mas Aditya Gumay, dan Mas Adenin Adlan, sutradara dan penulis scenario film layar lebar “Rumah Tanpa Jendela” Alhamdulillah pula, mereka berdua tak pelit dengan ilmunya, sehingga saya bisa mencuri ilmu-ilmu kepenulisan dari beliau berdua. Semoga kelak, impian saya untuk menjadi seorang penulis scenario, akan tercapai. Amin
Walaupun saya belum sukses seperti mereka-mereka para penulis senior lainnya, namun saya tetap merasa bersyukur atas pencapaian saya dalam dunia kepenulisan. Karena bagaimanapun juga, itu adalah pencapaian, dan kesuksesan dalam kehidup. Saya juga harus berterima kasih pada Penerbit Leutika, yang telahpun mengangkat derajat saya, menjadi seorang penulis di penerbitnya. Allah benar-benar mengirimmu untuk menjadikanmu sebagai tangga kesuksesan saya dalam dunia kepenulisan ini. Terima kasih ya Allah, semoga kelak, Engkau berikan saya kesempatan untuk mencicipi kesuksesan yang lebih besar lagi dalam dunia scenario film, agar impian untuk memiliki rumah segera tergapai. Baik rumah yang akan saya dan keluarga tempati, maupun rumah suciMu di tanah suci, jika berhaji kelak. Amin…..
Untukumu, kawan-kawanku. Wujudkan impianmu, hingga ke titik kesuksesan. Semangat….!!!